Industri Pengolahan Susu Parigi Moutong Tarik Investor, Bupati Beri Garansi
PARIGI MOUTONG – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong secara resmi menawarkan proyek percontohan industri pengolahan susu Parigi Moutong pada agenda prapelaksanaan Forum Investasi Nasional 2026. Pemaparan strategis ini disampaikan oleh Bupati Parigi Moutong H. Erwin Burase dalam pertemuan hibrida di Swiss-Belhotel Silae, Kota Palu, Jumat (09/10). Proyek peternakan sapi perah terintegrasi tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan gizi regional sekaligus menekan ketergantungan impor.
Kebutuhan susu segar di wilayah Sulawesi Tengah saat ini masih sangat bergantung pada pasokan dari luar provinsi. Hampir seratus persen pasokan bahan baku tersebut didatangkan langsung dari Pulau Jawa. Kondisi timpang ini membuka celah pasar yang besar bagi kehadiran industri pengolahan susu Parigi Moutong sebagai pelopor bisnis peternakan terintegrasi di kawasan Indonesia Timur.
“Bapak Ibu tentu sudah tahu Indonesia mengimpor sekitar 80 persen kebutuhan susunya. Hari ini, hampir semua susu segar yang diminum di Sulawesi Tengah didatangkan dari Pulau Jawa. Tidak ada satu pun industri pengolahan susu di Parigi Moutong,” kata H. Erwin Burase, Bupati Parigi Moutong.
Proyek ini menawarkan nilai tambah yang sangat signifikan bagi pemodal yang bersedia menanamkan modalnya. Susu mentah yang awalnya bernilai Rp8.500 per liter bisa melonjak harganya menjadi Rp24.000 per liter setelah melalui proses pasteurisasi dan pengemasan. Sebagai bentuk dukungan iklim usaha, pemerintah daerah telah berkoordinasi intensif dengan perwakilan Kementerian Investasi untuk mengawal proses perizinan secara terpadu.
Pemerintah daerah juga menjamin kepastian pasar dengan bertindak sebagai pembeli pertama produk turunan susu tersebut. Sebanyak 51.840 liter susu per bulan akan diserap langsung oleh pemerintah guna menyokong program makan bergizi gratis di belasan titik dapur umum daerah selama tahun pertama operasi.
“Kami berkomitmen menyerap 51.840 liter per bulan untuk program gizi daerah selama tahun pertama. Artinya, Bapak Ibu tidak memulai dari nol karena pasarnya sudah ada dan kami yang akan membukakan pintunya,” jelasnya.
Dari sisi geografi, pemerintah telah memetakan lahan potensial di sepanjang jalur Trans Sulawesi seperti Kecamatan Parigi Selatan, Torue, dan Balinggi. Pengembangan awal industri pengolahan susu Parigi Moutong hanya membutuhkan lahan sekitar empat hektare yang ke depannya bisa diperluas secara bertahap. Penempatan peternakan dirancang berada di dataran tinggi guna menjaga stabilitas suhu dan mencegah sapi perah mengalami stres akibat cuaca panas.
“Saya pribadi menjamin satu hal bila ada persoalan lahan dengan masyarakat, itu urusan Pemerintah Daerah, bukan urusan investor. Tim kami akan menyelesaikannya sebelum Bapak Ibu mulai membangun,” tutup Erwin Burase.
Pengembangan tahap komersial proyek ini diproyeksikan memiliki tingkat pengembalian internal yang stabil dan periode balik modal kurang dari enam tahun. Pemerintah memberikan tenggat waktu 90 hari bagi calon pemodal untuk merampungkan penandatanganan surat minat komersial. Skema kemitraan jangka panjang ini diharapkan turut menguntungkan peternak lokal yang akan bertindak sebagai pemasok pakan rumput melalui wadah koperasi.